ayuutami.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Beranda Artikel
Teks
Kategori besar untuk segala isi situs ini yang berupa teks atau yang mengutamakan teks.

Novel Terbaru Ayu: Manjali dan Cakrabirawa

E-mail Cetak PDF

 

Telah terbit novel terbaru Ayu Utami, Manjali dan Cakrabirawa. Bercerita tentang Marja, seorang gadis Jakarta, yang dititipkan berlibur oleh kekasihnya pada sahabat mereka, Parang Jati. Mereka menjelajahi alam pedesaan Jawa dan candi-candi. Perlahan tapi pasti, Marja jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Parang Jati membuka matanya akan rahasia yang terkubur di balik hutan: kisah cinta sedih dan hantu-hantu dalam sejarah negeri ini. Di antaranya, hantu Cakrabirawa.

Manjali dan Cakrabirawa adalah yang pertama dari Roman Misteri - Seri Bilangan Fu, serial yang berhubungan dengan novel Bilangan Fu. Jika Bilangan Fu lebih filosofis, seri ini lebih merupakan petualangan memecahkan teka-teki. Teka-teki itu berhubungan dengan sejarah dan budaya Nusantara, sehingga novel ringan ini membawa pembacanya mengenal kembali khazanah tersebut.

Candi Belahan adalah salah satu tempat yang dikunjungi Marja dan Parang Jati dalam Manjali dan Cakrabirawa. Candi petirtaan ini terletak di Gunung Penanggungan, Jawa Timur, dan dipercaya dibangun oleh, atau untuk, raja Airlangga (abad ke-11 Masehi). Peninggalan ini dikenal juga dengan nama Sumber Tetek--mengacu pada patung yang mengucurkan air dari payudaranya.

 

Pemutakhiran ( Sabtu, 17 Juli 2010 16:18 )
 

Jin Plagiat

E-mail Cetak PDF

Siapa yang lebih plagiat: guru besar yang mencontek tulisan orang, atau jin yang "mencontek" wajah tuannya untuk meniduri murid tuan kiai?
Tidak percaya? Percaya tak percaya, kedua berita itu muncul di media massa pekan-pekan belakang. Sama-sama terjadi di dunia pendidikan. Yang pertama adalah kisah mengenai seorang santri perempuan dari sebuah pesantren di Tangerang. Setelah gadis itu mengeluh tak enak badan, orangtuanya mendapati anaknya hamil beberapa bulan. Berceritalah si gadis bahwa pemimpin sekolahnya pernah melamar. Bukan sang kiai yang hendak menikahinya. Tapi--hm, percaya tidak percaya--jin "milik" sang kiai tertarik pada santri  itu. Si kiai hanya melamarkan.
Si gadis menolak. Apakah dia takut, atau setidaknya heran, entahlah. Barangkali jin-jin demikian dianggap biasa saja. Siapa tahu. Hanya saja, tahu-tahu dia hamil.

Lebih lanjut...
 

Siapa penemu kata "rebonding"?

E-mail Cetak PDF

Ketika sekelompok ulama di Jawa Timur mengharamkan rebonding rambut, banyak pertanyaan yang muncul atau bisa muncul. Misalnya, apakah mereka juga mengharamkan keriting rambut? Kalau tidak, kenapa? Kok rambut lurus dianggap terlarang sedangkan rambut keriting tidak? Kan sama-sama buatan? Selain itu, siapa yang membikin-bikin kata itu sebab kita tidak bisa menemukannya di kamus?'

Pemutakhiran ( Senin, 15 Februari 2010 10:09 ) Lebih lanjut...
 

Ayuutami.com akan mengubah tampilan

E-mail Cetak PDF
Ayuutami.com akan segera mengubah penampilan. Diharapkan, dengan wajah barunya kelak, pengunjung lebih nyaman membaca dan menelusuri situs ini dan berkomunikasi. Juga, terutama agar peminat Klinik Penulisan dapat lebih mudah mengirim artikel pendeknya. Ayuutami.com meminta maaf atas kendala teknis yang kerap terjadi selama setahun ini. Diharapkan, wajah baru Ayuutami.com dapat terwujud dalam satu bulan ke depan.
Pemutakhiran ( Senin, 15 Februari 2010 09:57 )
 

Semar Pernah Jadi Ratu

E-mail Cetak PDF

Saya melihat Semar pada Gus Dur. Itu bukan rahasia. Banyak orang melihat Semar pada Gus Dur.
Dan saya melihat itu lagi ketika menonton High Noon in Jakarta, dokumenter arahan sutradara Curtis Levy, yang diputar untuk mengenang beliau yang dikebumikan menjelang pergantian tahun.
Papan kayu Semar seperti penanda angin berlatar tugu Monas. Kodok hijau lucu penghias kebun Istana Merdeka. Sutradara mengawali film dengan citra-citra yang membangun humor.
Di dalam satu ruang istana terjadi kesibukan. Seorang tukang jahit mengukur badan atas sang presiden. Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Pelbagai kemeja resmi dipaskan. Batik, tenun, ikat. Kemudian, kamera menyorot ke bawah. Tampaklah presiden kita hanya mengenakan celana pendek. Kakinya kurus dibanding bobot tubuh atasnya. Ia tampak sesantai kanak-kanak. Ia tampak tak peduli pada segala formalitas yang biasanya menjadi aroma istana. Ia mengingatkan kita pada Semar.
Lalu, lihatlah, ia tenggelam dalam meja kerjanya di ruang istana yang besar. Seperti kodok yang berendam. Ia juga menerima tamu dari negeri tetangga sambil tetap mengenakan celana pendek dan sandal.
Setiap pagi, setelah waktu solat subuh, ia digandeng dua pengawal di kanan kiri. Diikuti selusin lagi pengawal. Tetap dengan celana pendek rakyat sehari-hari, ia  melakukan senam pagi sederhana, sesuai dengan kemampuan fisiknya yang tak lagi istimewa. Lantas, karena sang presiden mengenakan baju demikian, begitu pula para pengawalnya. Mereka semua memakai kaos rumahan dan celana pendek yang menampakkan kaki-kaki yang mulai tampak kurus dibanding perut yang mulai berisi. Mereka berjalan megal-megol. Tak bisa tidak, rombongan itu mengingatkan saya pada punakawan.

Lebih lanjut...
 


Halaman 1 dari 9

Karya Terbaru Ayu Utami

bilangan_fu_4.jpg

Pencarian

Absensi

Sekarang ada 6 pengunjung sedang mengunjungi situs ini

Data Kunjungan

Content View Hits : 41446