ayuutami.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Jin Plagiat

E-mail Cetak PDF

Siapa yang lebih plagiat: guru besar yang mencontek tulisan orang, atau jin yang "mencontek" wajah tuannya untuk meniduri murid tuan kiai?
Tidak percaya? Percaya tak percaya, kedua berita itu muncul di media massa pekan-pekan belakang. Sama-sama terjadi di dunia pendidikan. Yang pertama adalah kisah mengenai seorang santri perempuan dari sebuah pesantren di Tangerang. Setelah gadis itu mengeluh tak enak badan, orangtuanya mendapati anaknya hamil beberapa bulan. Berceritalah si gadis bahwa pemimpin sekolahnya pernah melamar. Bukan sang kiai yang hendak menikahinya. Tapi--hm, percaya tidak percaya--jin "milik" sang kiai tertarik pada santri  itu. Si kiai hanya melamarkan.
Si gadis menolak. Apakah dia takut, atau setidaknya heran, entahlah. Barangkali jin-jin demikian dianggap biasa saja. Siapa tahu. Hanya saja, tahu-tahu dia hamil.

Gadis itu hanya ingat bahwa suatu kali ia berpapasan dengan pemilik sekolah. Setelah mengucapkan salam sambil mencium tangan sang kiai ia merasa pusing dan tak ingat apa-apa lagi. Begitu sadar, ia merasa sakit di perut bagian bawah. Beberapa bulan kemudian, orangtuanya mengetahui ia hamil.

Kasus ini dibawa ke polisi. Tapi, menurut polisi, ketika sang kiai ditanya, jawabnnya begini: yang menghamili adalah si jin. Atau, menurut kiai: "khaddam".
Anda tahu, atau setidaknya Anda pernah dengar kan, jin "peliharaan" macam begini konon bisa mengambil alih maujud "tuan"-nya dan mengelabui orang. Saya pakai tanda kutip untuk "peliharaan" dan "tuan" sebab sesungguhnya saya memang tidak tahu hubungan macam apa yang terjalin antara mereka. Pertemanan? Atau hubungan tuan dan jin macam Aladdin punya? Pertanyaannya, bolehkah si jin meng-copypaste rupa tuannya (atau temannya) tanpa izin? Kok enak saja mencontek...

Itu kasus yang pertama. Meskipun unsur kriminalnya lebih berat (penipuan dan pemerkosaan), yang lebih heboh di media massa adalah yang kedua. Seorang guru besar sebuah universitas terkemuka di Bandung ketahuan mencontek artikel akademisi dari Australia dan menerbitkannnya di koran. Akhirnya, ia juga mengaku bahwa ia telah beberapa kali menggunakan kutipan (dalam jumlah banyak) tanpa menyebut penulisnya. Meski dia pengajar favorit, gelar guru besarnya dicabut. Ia tahu diri dan mengundurkan diri sebagai dosen. 

Kasus plagiat ini dianggap lebih menghebohkan karena ia merupakan gejala gunung es. Di bawah permukaan, plagiarisme merajalela di seluruh sistem akademik kita. Sudah bukan rahasia lagi, sejak sebelum era internet pun, kios ketik dan cetak skripsi menyediakan jasa "konsultasi skrispsi" segala jurusan. Modus paling kuno, mereka mengkopi skripsi yang mereka cetak atau jilid dan menyimpannya sebagai bahan konsultasi bagi  klien berikutnya.
Tentu saja plagiarisme terjadi di negeri lain. Tapi, menarik juga membayang-bayangkan kasus Indonesia, yang skala copet-mencopet karyanya sangat masif. Anda tahu, bangsa kita terkenal dengan "jalan tengah" atau "jalan ketiga". Pancasila, misalnya, bukan liberalisme bukan sosialisme (sebab kita menolak keduanya). Tetapi, Pancasila adalah di antara keduanya.

Demikian pula. Kita suka mengutuk indivualisme dan lebih menyukai "kebersamaan" (jika bukan komunalisme). Istilahnya gotong royong. Nah, plagiarisme adalah jalan tengah di antara individualisme dan kebersamaan tadi.  Giliran mengambil, kita bersikap komunal. Giliran mendaku, kita bersikap individual. Giliran menggunakan, kita bersikap tradisional (dalam tradisi tak ada hak cipta). Giliran mengklaim, kita bersikap modern.

Sementara itu, kasus santri yang hamil tadi masih terkatung-katung. Ini juga persolaan modernitas dan tradisionalitas. Barangkali polisi bingung karena, diam-diam, mereka hidup dalam dua nilai itu sekaligus. Di satu sisi ada hukum yang harus ditegakkan. Di sisi lain, ada kepercayaan mengenai jin. Tak tahulah aparat cara menangkap dan menyidik jin. Sesungguhnya, kasus ini lebih mudah. Tangkap saja yang mengaku memiliki jin itu. Bagaimana pun dia harus bertanggung jawab pada apa yang terjadi di sekolahnya! Tapi, jangan-jangan, semua pihak mencari jalan tengah lagi....



Tags: plagiarisme  
 

Karya Terbaru Ayu Utami

bilangan_fu_4.jpg

Pencarian

Absensi

Sekarang ada 3 pengunjung sedang mengunjungi situs ini

Data Kunjungan

Content View Hits : 41726

Kutipan Buku

Tapi tak semua orang tabah menanggung misteri. Kebanyakan manusia adalah lemah dan suka berkuasa. Sebagian menjatuhkan misteri itu dari pundaknya ke tanah, dan menjelmalah cerita. Cerita yang indah masih mengandung jejak-jejak misteri itu. Tapi cerita yang buruk tak menyisakan lagi jejak-jejak misteri, sebab ia sepenuhnya menjelma kekuasaan. Yaitu, segala perintah dan larangan. (Bilangan Fu)

TJT (Tanya & Jawab Terkerap)

Bagaimana Cara Menulis?

Bagaimana menuangkan ide?Ide adalah ibarat...

Baca Komentar Ayu

Dari Rak Buku

Cindy Adams Penyambung Lidah BK

News image

...

Baca Komentar Ayu

Artikel Terkait