45 tahun silam, juga di musim hujan sekitar bulan Sura, terjadi peristiwa mirip Ponari, juga tak jauh dari Jombang.
Alkisah, pada bulan November 1953--yang adalah bulan Sura--seorang perempuan yang dijerat utang dan kemiskinan kehilangan cincin. Setelah mencari tanpa hasil, tiba-tiba ada cahaya menyergap rumah sampai memecahkan batu bata. Aneh bin ajaib, dalam batu bata yang pecah itu ditemukan si cincin yang hilang! Nah, sejak itu ia menjadi dukun. "Dukun tiban", istilahnya. Sebab ia tidak belajar mendukun, melainkan ketiban pulung kedukunan. Mirip Ponari, ia pun mengobati orang dengan cincinnya.
Menarik. Peristiwa ini terjadi di Mojokerto--tetangga Jombag daerah si Ponari, 45 tahun silam. Bulannya November atau bulan Sura (baca: Suro) tahun Jawa. Petir dan batu yang meniban Ponari terjadi di bulan Desember 2008. Tidak persis bulan Sura, tapi beberapa hari sebelum tibanya bulan keramat menurut klenik itu. Yang jelas, peristiwa dukun tiban 45 tahun silam dan Ponari sama-sama terjadi ketika bulan Sura jatuh di musim hujan. Mungkin agak sulit petir menyambar di tengah kemarau. Kalau sampai ada petir menyambar di musim kering, mungkin kesaktian yang ditibankan berlipat dahsyat.
Kisah ini dicatat antropolog ternama Clifford Geertz dalam buku yang sudah diterjemahkan: Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa (Pustaka Jaya: 1981).
Buku ini dikutip lagi oleh Ign. Gatut Saksono dalam Paranormal: Peran dan Tanggung Jawab Moralnya (yang terakhir sampulnya bergambar dukun berkalung tengkorak. Hiii...).
Menurut catatan Geertz, keampuhan dukun tiban tidak seumur hidup. Dalam kasus Mojokerto tadi, hanya sebulan kemudian kekuatan cincin pun kedaluarsa. Para pasien--yang semula bisa datang dari radius 100 kilometer--pun meninggalkan sang dukun.
Sebagian bersedih. Tapi mereka menerima peristiwa demikian. Kesaktian bisa terberi dari alam raya. Kita harus bersyukur selagi ia ada. Sebab ia tak selamanya ada.
Konon, para informan Geertz mengatakan bahwa di sekitar Jawa Timur selalu ada dukun tiban sekitar lima tahun sekali. Dalam alam pikir ini, peristiwa gaib adalah peristiwa wajar. Tidak ada yang aneh atau tak masuk akal di sana. Peristiwa demikian menjadi istimewa bukan karena tak logis, melainkan karena jarang terjadi.
*
Persoalannya, kita di masa ini cenderung mendekatinya dari kacamata rasionalis modernis belaka. Komisi Nasional Perlindungan Anak pun mengatakan praktik Ponari menyalahi hak anak. Ada yang mengutuk ini semua sebagai perilaku syirik. Yang lain menulis bahwa ini menunjukkan bahwa ini gejala sakit jiwa bangsa yang maunya serba instan setelah belitan persoalan--seolah keperacayaan pada dukun baru terjadi setelah reformasi. Padahal, dari zaman Singasari orang Jawa juga sudah begitu. Atau ada banyak yang begitu.
Semua komentar miring itu menunjukkan adanya kesenjangan antara cara pandang tradisional dan cara pandang modern. Dan, terus terang, saya bosan dengan cara pandang modern yang dipakai untuk menghakimi sesuatu yang lain, sesuatu yang memang berbeda. Ada banyak gejala di dunia ini dan kenapa orang hanya menggunakan satu teropong saja? Cukuplah polisi mengamankan antrian agar jangan ada yang mati terinjak atau berebutan zat asam.
Kita, orang modern, terjebak dalam pikiran bahwa segala sesuatu itu berkembang maju dan mapan. Seseorang belajar kedokteran, lulus, dan menjadi dokter sampai pensiun. Tapi, dukun tiban adalah fenomena yang lain sama sekali. Dan orang tradisional mengerti: seperti bintang jatuh, kesaktian bisa ditibankan pada seseorang yang sama sekali tidak istimewa. Ponari, atau siapapun dia, hanyalah penerima "tamu". "Si tamu" hanya mampir beberapa waktu, bagaikan dokter dalam alam raya yang secara periodik mengunjungi warga manusia untuk menyelenggarakan kunjungan pengobatan. Maka, selama sang mantri itu ada, berduyun-duyunlah orang. Sebelum mantri jagad raya itu pergi lagi--barangkali untuk bertugas di tempat lain.








